Connect with us

Keuangan Syariah

Bahas Tuntas Bank Syariah di Indonesia

Bank Syariah

Kini semakin banyak masyarakat terutama di Indonesia yang mempercayakan keuangannya pada perbankan syariah.

Sistem perbankan syariah sendiri punya perbedaan dengan bank konvensional. Pelaksanaan sistem bank syariah lebih mengarah pada hukum islam.

Berikut penjelasan terperinci tentang Bank syariah di Indonesia.

Sejarah Berdirinya Bank Syariah Di Indonesia

Diawali dengan adanya deregulasi perbankan tahun 1983, yang kemudian menjadi sejarah berdirinya bank syariah Indonesia.

Deregulasi yaitu keputusan yang dibuat oleh BI kepada seluruh bank umum untuk secara bebas menentukan suku bunga.

Dikutip dari laman ojk.go.id adanya deregulasi ini pemerintah berharap agar tercipta kondisi bank yang kuat untuk menopang perekonomian negara.

Sampai tahun 1990 an MUI membentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank islam Indonesia.

Kemudian tepatnya tahun 1991 akhirnya resmi berdiri perbankan syariah di Indonesia dengan sebutan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

BPRS ini diprakarsai oleh langsung oleh MUI saat mengadakan lokakarya di Bandung tanggal 18-19 Agustus 1990.

Hasil lokakarya tersebut, berdirilah PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang resmi beroperasi tahun 1992.

Namun sayangnya, hingga tahun 1998 tidak begitu menunjukkan perkembangan karena hanya berdiri 1 unit bank syariah.

Untuk itu, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yaitu UU No. 10 tahun 1998.

UU tersebut berisi tentang kewenangan bank konvensional untuk membuka Unit Usaha Syariah (UUS).

Hingga akhirnya tahun 2008 UU No.21 tahun 2008 disahkan yaitu tentang perbankan syariah. Saat itu sekaligus menjadi tanda bangkitnya perbankan syariah di Indonesia.

Sejarah mencatat, tahun 2005 bank umum syariah yang beroperasi sebanyak 304 unit usaha, syariah 19 unit, serta BPRS 92 unit.

Tahun berikutnya ternyata mengalami peningkatan menjadi 643 unit bank umum syariah, 25 unit usaha syariah, serta 133 buah BPRS.

Prinsip Bank Syariah Di Indonesia

Sebetulnya baik bank konvensional maupun bank syariah sama-sama punya tujuan yang sama.

Yaitu untuk mendapat keuntungan dengan cara meminjamkan sejumlah modal, menyimpankan dana, membiayai kegiatan usaha atau kegiatan lain untuk membantu masyarakat.

Berikut apa saja prinsip bank syariah

  • Prinsip bagi hasil (Mudharabah), yaitu perjanjian kerjasama antar pemilik modal dengan pengelola modal. Nanti keuntungannya akan dibagi sesuai kesepakatan keduanya.
  • Prinsip penyertaan modal (Musyarakah). Merupakan bentuk kerjasama 2 orang atau lebih pada suatu usaha. Masing-masing akan mendapat keuntungan sesuai dengan modal yang dikeluarkan.
  • Prinsip jual beli barang untuk memperoleh keuntungan (Murabahah). Merupakan perjanjian jual beli antara bank serta nasabah.
  • Prinsip Ijarah, yaitu perjanjian pemindahan hak guna. Hak guna disini dalam hal objek atau jasa dengan biaya sewa. Namun tidak dilanjutkan dengan pemindahan kepemilikan.
  • Prinsip Ijarah Wa Iqtina yaitu perjanjian untuk pemindahan hak guna atas objek serta jasa.

Produk Bank Syariah Di Indonesia

Sama dengan bank konvensional, bank syariah juga punya beberapa produk yang ditawarkan untuk nasabahnya. Sebagian memang produk jasa, yang dibagi menjadi 4 kelompok besar.

Berikut apa saja produk perbankan syariah di Indonesia

  • Titipan atau simpanan, yaitu salah satu produk bank syariah yang berbentuk jasa. Ada jensi produk yang ditawarkan disini yaitu Al-Wadi’ah serta deposito Mudharobah.
  • Bagi hasil juga merupakan pilihan produk bank syariah yang ditawarkan oleh bank syariah. Pilihan produknya ada 4 jenis. Diantaranya adalah Al-Musyarakah (joint venture), Al-Mudharabah, Al-Muzara’ah, serta Al-Musaqah.
  • Jual beli, ada lagi pilihan produk yang bisa dinikmati nasabah bank syariah yaitu jual beli ini. Setidaknya ada 5 pilihan produk. Diantaranya adalah Ba’i Al-Murabahah, Ba’i As-Salam, Ba’i Al-Istishna’, Al-Ijarah, serta Al-Ijarah Al-Mutahia Bit-Tamlik.
  • Jasa, bank syariah juga menawarkan beberapa produk jasa yang bisa dinikmati nasabah. Terdapat 5 pilihan produk jasa yang diperuntukkan untuk para nasabah. Diantaranya ada Al- Wakalah, Al-Kafalah, Al-hawalah, Ar- rahn, serta Al- Qardh.

Rekomendasi Bank Syariah Di Indonesia

Hingga saat ini peminat bank syariah khususnya di Indonesia terus mengalami kenaikan.

Prinsipnya yang menggunakan syariat hukum islam, diketahui merupakan penyebab mengapa bank syariah ini sekarang bergitu populer.

Bagi yang ingin mencoba mempercayakan keuangannya di bank syariah, berikut rekomendasi bank syariah di Indonesia terbaik

Bank Mualamat

Salah satu yang bisa direkomendasikan saat memilih bank syariah terutama di Indonesia adalah bank mualamat. Perlu diketahui, bank ini bisa dikatakan merupakan pelopor bank syariah di Indonesia.

Bayangkan saya, bank ini mulai berdiri sejak 1991 dan bertahan hingga saat ini.

Selain itu bank ini juga sudah mengantongi izin dari bank devisa serta terdaftar di BEI sejak tahun 1994 lalu.

Keunggulan bank muamalat ini adalah memiliki produk tabungan yang bebas administrasi bulanan.

Produk ini bisa menjadi andalan karena lebih hemat, tabungan tidak akan terpotong oleh biaya administrasi tiap bulannya.

Bank Syariah Mandiri

Masih tergolong agak baru, bank syariah mandiri berdiri sejak tahun 1999. Namun jangan tanyakan perkembangannya yang begitu cepat untuk menarik banyak nasabah.

Hal ini terbukti pada tahun 2017, bank ini telah mempunyai sedikitnya 737 kantor pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bahkan hingga tahun tersebut, telah tercatat memiliki ATM sebanyak 196 ribu jaringan.

Selain menyediakan beragam pilihan produk keuangan untuk nasabah, bank syariah mandiri ini punya keunggulan lain.

Mereka punya pelayanan gadai serta memperbolehkan nasabahnya untuk mencicil emas.

Bank BRI Syariah

Tak mau kalah dengan bank umum lainnya, BRI juga mendirikan bank BRI Syariah yang resmi beroperasi sejak tahun 2008.

Awalnya memang BRI ini merupakan bank konvensional, lalu mencoba untuk memutar arah dengan mengubah kegiatan usahanya menjadi bank syariah.

Namun, tidak disangka malah mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat.

Terbukti dari tahun ke tahun, bank BRI syariah ini terus menunjukkan perkembangan serta nasabah yang terus meningkat.

Bahkan, hingga kini bank BRI syariah ini juga melayani KPR serta kredit kendaraan bermotor bagi para nasabahnya.

Baca Juga: Kupas Tuntas Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank BNI Syariah

Berdiri sejak tahun 2010, bank BNI Syariah ini selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada nasabahnya.

Hal ini dibuktikan dengan hingga tahun 2014 saja bank tersebut setidaknya sudah memiliki 65 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain itu bank BNI Syariah juga sudah mempunyai 17 kantor cabang pembantu serta 17 kantor kas.

Ditambah lagi kepemilikan 22 mobil layanan gerak serta 20 payment point, yang semakin memperlihatkan pesatnya perkembangan bank tersebut.

Bank BNI Syariah menyiapkan beberapa pilihan produk untuk nasabah yang tentu saja berbasis hukum islam.

Bahkan bank ini pun mampu melayani pembiayaan bagi nasabah yang ingin membuka usaha kecil.

Itulah beberapa penjelasan seputar bank syariah di Indonesia.

Mulai dari sejarah, produk, prinsip, serta beberapa rekomendasi yang bisa dipilih. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, memang lebih nyaman bertransaksi dengan bank syariah.

Meskipun begitu, baik bank konvensional atau syariah sama ingin membatu melayani masyarakat dengan terbaik.

Header Image: Pixabay/ Modified

Mendirikan situs income.id sebagai perwujudan pengabdian kepada bangsa dan negara indonesia melalui media yang informatif dan edukatif

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bisnis

Kupas Tuntas Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

bank syariah

Banyaknya Bank Konvensional yang juga membuka unit usaha syariah menyebabkan masyarakat semakin bingung menilai perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional. Hal tersebut disebabkan oleh potensi going concernnya.

Going Concern adalah potensi keberlanjutan suatu usaha atau perusahaan. Meski perbedaan jumlah nasabahnya belum signifikan, Bank Syariah telah bangkit dan menyaingi Bank Konvensional.

Berdasarkan survei dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), ditemukan pembiayaan Bank Syariah naik 11,58% sebelumnya. Beberapa masyarakat masih meragukan perbedaan kedua bank tersebut.

Masih bingung memilih Bank Syariah atau konvensional?

Berikut ini perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional sebagai bahan pertimbangan memilih salah satunya.

1. Pengertian dan Dasar Hukum yang Digunakan

image: tribunnews.com

Bank Syariah dari namanya sudah dapat ditebak bahwa bank ini memiliki dasar hukum yang masih berhubungan dengan dalil dalam Islam. Dasar hukum bank syariah adalah Al-Qur’an dan Hadist juga fatwa dari para ulama.

OJK mengungkapkan pengertian Bank Syariah sebagai bank yang prinsipnya berdasarkan ketentuan fatwa MUI.

Bank Konvensional dasar hukum yang digunakan yakni hukum Perdata dan Pidana (hukum positif yang berlaku di Indonesia).

UU Nomor 10 Tahun 1998 menjelaskan bahwa Bank Konvensional adalah bank memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran secara konvensional. Pada saat ini bank konvensional juga sudah membuka unit Bank Syariah.

2. Perbedaan Prinsip yang Digunakan

Prinsip syariah menurut fatwa MUI tersebut dijelaskan dalam UU No. 21 tahun 2008.

Prinsip tersebut diantaranya, prinsip keadilan dan keseimbangan (Al Adl wa tawazun), universalisme (alamiyah), kemaslahatan (maslahah), juga tidak mengandung objek haram. Objek haram diantaranya, gharar, riba, masyir, dan halim.

Menurut Martono (2002) terdapat dua prinsip Bank Konvensional diantaranya, penetapan bunga sebagai harga dan sistem biaya fee based.

Penetapan bunga sebagai harga dilakukan untuk semua produk seperti, tabungan, kredit, dan deposito. Sistem biaya fee based berarti bahwa bank menentukan berbagai biaya dalam nominal atau prosentase terntentu.

3. Berdasarkan Investasinya

Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional juga terdapat pada segi investasinya. Menurut POJK Nomor 31/POJK.05/2014, investasi untuk Bank Syariah hanya untuk perdagangan yang halal (bebas riba dan gharar). Perdagangan tersebut seperti, perdagangan, peternakan, perikanan, dll.

Bank Konvensional melayani investasi dalam berbagai hal usaha baik tujuannya untuk mencari keuntungan atau hanya untuk membeli barang konsumsi.

Aturan Investasi Bank Konvensional tersebut terdapat pada POJK Nomor 42/POJK.03/2017. Semua investasi walaupun tidak halal asalkan diakui oleh hukum positif pemerintah dapat dilakukan.

4. Segi Pembagian Keuntungan

Berdasarkan POJK Nomor 31/POJK.05/2014 Pasal 22 menyebutkan bahwa pembagian keuntungan Bank Syariah adalah dari sistem bagi hasil. Bagi hasil investasi harus ditentukan saat perjanjian awal.

Nisbah atau ukuran bagi hasil didasarkan pada keuntungan yang diperoleh. Kerugian pun harus dibagi dan tidak ada pengecualian antar keduabelah pihak.

Berdasarkan penjelasan dari Syafi’i Antonio (2001:34) dalam bukunya, Bank Kovensional sistem pembagiannya menggunakan sistem bunga.

Penentuan harga Bank Konvensional dinilai dari tingkat suku bunga tertentu yang disebut sebagai based. Bank konvensional tidak memedulikan untung atau ruginya pihak kedua.

5. Segi Tujuan atau Orientasi Lembaga

image: pixabay

Bank Syariah dengan prinsip yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al- Hadist harus memiliki tujuan yang baik. Bank Syariah memiliki orientasi yang menguntungkan kedua belah pihak dan juga rugi yang ditanggung bersama.

Tujuan dari Bank Syariah tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga kemakmuran, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bank Konvensional lebih mengedepankan keuntungan dan tidak ikut menanggung kerugian atas investasi yang diberikannya. Orientasi dari Bank Konvensional adalah profit oriented.

Hal ini berarti orientasinya hanya keuntungan terbukti dalam hal pemberian kredit untuk usaha denda untuk keterlambatan pembayaran tidak ada pemakluman.

6. Hubungan Nasabah dengan Pihak Bank

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang satu ini berkaitan dengan hubungan di antara nasabah dengan bank.

Bank Syariah memperlakukan nasabah seperti ikatan mitra atau pihak yang saling memberikan keuntungan. Perlakuan tersebut juga didukung dengan transparansi perjanjian di antara kedua belah pihak sehingga dipastikan memiliki hubungan yang baik.

Bank Konvensional lebih kepada memberikan keuntungan atau pembayaran cicilan kredit tepat waktu, maka pihak bank akan berperilaku baik.

Perbedaan yang menonjol yaitu pada transparansi perjanjian mengenai keterlambatan pembayarannya. Pihak Bank Konvensional tidak memberikan kelonggaran terhadap keterlambatan tertentu dan akan langsung melakukan penyitaan aset.

7. Dewan Pengawas

Berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2008, Bank Syariah memiliki lembaga pengawasan yang disebut dengan DPS (Dewan Pengawas Syariah). DPS adalah dewan yang menilai apakah pelaksanaan Bank Syariah sesuai dengan prinsip syariah atau tidak.

Pembuatan fatwa untuk produk baru yang masih belum terdapat fatwa dari MUI juga harus dilakukan lembaga ini.

Bank konvensional tidak memiliki lembaga pengawasan setara DPS seperti Bank Syariah. Pengawasan hanya berpusat dari OJK yang juga mengawasi Bank Syariah (tidak khusus untuk Bank Konvensional).

Namun, semua transaksi atau kegiatan ekonomi dari Bank Konvensional harus sesuai dengan hukum-hukum positif yang telah diatur pemerintah yang berwenang.

Baca Juga: Kupas Tuntas lembaga keuangan bukan bank di Indonesia

8. Segi Produk

Produk dari Bank Syariah menurut POJK Nomor 31/POJK.05/2014 terbagi menjadi tiga dan perbedaannya terletak pada akad yang digunakan. Jenis produknya diantaranya, pembiayaan jual beli, investasi, dan jasa.

Pembiayaan jual beli diantaranya murabahah, salam, dan istishna’. Pembiayaan investasi meliputi, mudharabah dan musyarakah (masih terbagi lagi). Pembiayaan jasa diantaranya, ijarah, hawalah, dll.

Menurut Pasal 20  ayat 1 PBI Nomor 5/8/PBI/2003 (Penerapan Manajemen Resiko bagi Bank Umum) menjelaskan produk-produk Bank Konvensional. Bank Konvensional memberikan pembeda pada produknya langsung dari kegunaan dari produknya.

Produk-produk dari bank konvensional diantaranya, tabungan, deposito (deposito berjangka, sertifikat deposito, dan deposit on call), giro, dan berbagai jenis kredit.

Itulah penjelasan tentang perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang dapat dijadikan acuan pertimbangan pemilihan bank.

Kedua bank tersebut memiliki perbedaan dan juga sekaligus menggambarkan kelemahan dan kelebihannya seperti, pada segi hubungan nasabah dengan pihak bank. Perbedaan tersebut menjelaskan kelebihan Bank Syariah yang memperlakukan nasabah sebagai mitranya dan sebaliknya.

Pemahaman menyeluruh terhadap segala perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional dapat memberikan masukan/ referensi agar dapat mudah menentukan akan menjadi nasabah dari bank yang mana.

Terlepas dari semua perbedaan tersebut, alangkah baiknya juga disesuaikan dengan kebutuhan nasabah itu sendiri. Lebih baik juga langsung berkonsultasi dengan Customer Service dari kedua bank tersebut.

Hal tersebut bertujuan agar dapat lebih rinci lagi kelebihan dan kekurangan dari kedua bank tersebut.

Lebih baik sedikit rumit di awal daripada rumit di akhir bukan?

Kemampuan pembayaran dari pembiayaan juga harus dipertimbangkan agar tidak menjadi kendala yang berarti di kemudian hari (jika berkaitan dengan pinjaman).

Header image: Pixabay

Continue Reading

Bisnis

5 Daftar Fintech Syariah yang Bergabung di AFSI

Seiring perkembangan zaman semua hal telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Termasuk kemajuan inovatif dalam bidang rekayasa teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan-kemajuan tersebut pastinya bertujuan untuk lebih mempermudah aktivitas hidup manusia sehari-hari. Salah satu kemajuan inovatif teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang finansial adalah fintech atau finansial teknologi.

Keberadaan Fintech bertujuan membuat masyarakat agar lebih mudah mengakses produk-produk keuangan serta untuk mempermudah transaksi dan meningkatkan literasii keuangan. Kebanyakan perusahaan-perusahaan Fintech Indonesia didominasi oleh perusahaan stratup yang berpotensi besar.

Terdapat beberapa jenis Fintech di Indonesia antara lain startup pembayaran, perencanaan keuangan, peminjaman, remitasi, investasi ritel, riset keuangan dan pembiayaan. Bahkan seiring dengan perkembangannya, sekarang ini banyak Fintech yang berbasis Syariah.

5 Daftar Fintech Syariah di Indonesia

Pastinya dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Islam membuat perkembangan ekonomi semakin berkembang. Oleh karena itu di sini kami akan mengulas sedikit tentang perusahaan-perusahaan Fintech Syariah. Daftar Fintech Syariah Indonesia yang kami berikan ini, bergabung dengan Asosiasi Fintech Syariah Indondosesia (AFSI).

AFSI telah disetujui dan di sahkan sebagai badan hukum melalui surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. Jadi pastinya fintech yang telah bergabung di AFSI merupakan perusahan-perusahaan yang aman untuk anda jadikan sebagai investasi. Berikut beberapa Fintech yang telah terdaftar di AFSI :

Alami (alamisharia.co.id)

Logo Alami Fintech

Alami adalah fintech agregrator yang menghubungkan para pengusaha UKM dengan pemilik layaran jasa keuangan berbasis Syariah seperti bank Syariah maupun P2P Lending Syariah. Jika anda merupakan pengusaha UKM yang bermaksut ingin mendapatkan suntikan dana melalui Alami, anda bisa langsung mengisi data-data yang diperlukan di website resmi Alami.

Fintech ini menawarkan nominal yang bisa diajukan oleh para pengusaha UKM sebesar 200 juta rupiah sampai dengan 30 miliar rupiah. Selain itu fintech Alami telah resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Proses operasionalnya juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah ((DPS) dan berdasarkat fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN). Maka biasa dipastikan bahwa fintech ini aman dengan menggunakan proses secara Syariah atau sesuai dengan ajaran islam.

Ammana (ammana.id)

Logo ammana Fintech

Ammana merupakan fintech P2P (Peer to Peer) lending Syariah yang berbasi komunitas Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Tujuannya utuk mendukung para pendukung UMKM dengan cara menjembatani para pendana. Fintech ini menggunakan sistem non-dana langsung, maksutnya adalah para pesaing UMKM diwajibkan terlebih dahulu untu menjadi anggota.

Selain itu PT Ammana Fintek Syariah merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan Hukum Republik Indonesia. Perusaan ini juga telah terdaftar resmi dan di awasi oleh OJK. Sehingga pastinya aman untuk anda yang ingin mencoba investasi di perusahaan ini.

Kerjasama (Kerjasama.com)

image: kerjasama Fintech

Kerjasama.com adalah pelopor crowdfunding Syariah di Indonesia. Sebagai perusahaan yang bergerak di crowdfunding, perusahaan ini menyediakan portal pelanggan dana untuk mempertemukan pihak investor dengan developer. Karena berbasis Syariah pastinya fintech ini menggunakan akad syar’i dalam setiap aktivitas transaksinya.

Meskipun perusahaan Fintech ini berbasis Syariah namun mempunyai sifat yang universal dalam artian yang diperbolehkan investasi atau bergabung tidak hanya muslim saja melainkan non muslim juga dapat bergabung menjadi investor sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

SyarQ (syarQ.com)

image: SyarQ Fintech

SyarQ merupakan perusahaan Fintech yang berbasis P2P Lending atau Peer to Peer. Perusahaan ini menyediakan sebuat platform cicilan online tanpa riba, syarQ menggunakan akad Murabahah dalam transaksi antara penjuan dan pembeli. Akad Murabahah merupakan merupakan jual beli antara penjual dengan pembeli.

Maksutnya adalah dalam prosesnya SyarQ tidak meminjamkan uang untuk membeli barang, melainkan membeli barang untuk kemudian dijual lagi kepada pembeli dengan proses pembayaran di cicil. Selain itu fintech Syariah ini sudah sesuai dengan fatwa Dewan Syariah MUI. Pastinya sudah terbukti halal serta aman untuk anda yang ingin melakukan investasi di perusahaan ini.

Kandangin (kandang.in)

Image: Kandang.in

Kandangin adalah platform Fintech yang bergerak dibidang investasi Syariah, yang menghubungkan para investor dengan para peternak yang ada di daerah. Perusahaan ini menggunakan sistem bagi hasil, selain itu Kandangin memiliki jaringan peternak terbesar di seluruh Indonesia.

Fintech ini menggunakan akad Mudharabah yaitu merupakan sebuah bentuk akad permodalan kerja sama usaha antara dua pihak yang menyebabkan pihak utama menyediakan 100% modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.

Selain itu perusahaan ini sedang atau telah mengikuti tahapan pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi selain Syariah, pastinya fintech ini juga aman untuk anda jadikan sebagai investasi.

Itulah lima perusahaan dari daftar fintech syariah yang telah tergabung di Asosiasi Fintech Syariah Indonesia. Jika anda menginginkan untuk investasi di perusahaan-perusahaan tersebut pastinya anda sudah mengetahui perusahaan maupun sistem yang ada di perusahaan yang ingin anda jadikan  sebagai investasi.

Dengan adanya artikel ini semoga dapat menjadi acuan untuk anda dalam memilih Fintech yang aman dan berbasis Syariah.

Continue Reading

TOP STORIES