Connect with us

Bisnis

Kupas Tuntas Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Banyaknya Bank Konvensional yang juga membuka unit usaha syariah menyebabkan masyarakat semakin bingung menilai perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional. Hal tersebut disebabkan oleh potensi going concernnya.

Going Concern adalah potensi keberlanjutan suatu usaha atau perusahaan. Meski perbedaan jumlah nasabahnya belum signifikan, Bank Syariah telah bangkit dan menyaingi Bank Konvensional.

Berdasarkan survei dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), ditemukan pembiayaan Bank Syariah naik 11,58% sebelumnya. Beberapa masyarakat masih meragukan perbedaan kedua bank tersebut.

Masih bingung memilih Bank Syariah atau konvensional?

Berikut ini perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional sebagai bahan pertimbangan memilih salah satunya.

1. Pengertian dan Dasar Hukum yang Digunakan

image: tribunnews.com

Bank Syariah dari namanya sudah dapat ditebak bahwa bank ini memiliki dasar hukum yang masih berhubungan dengan dalil dalam Islam. Dasar hukum bank syariah adalah Al-Qur’an dan Hadist juga fatwa dari para ulama.

OJK mengungkapkan pengertian Bank Syariah sebagai bank yang prinsipnya berdasarkan ketentuan fatwa MUI.

Bank Konvensional dasar hukum yang digunakan yakni hukum Perdata dan Pidana (hukum positif yang berlaku di Indonesia).

UU Nomor 10 Tahun 1998 menjelaskan bahwa Bank Konvensional adalah bank memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran secara konvensional. Pada saat ini bank konvensional juga sudah membuka unit Bank Syariah.

2. Perbedaan Prinsip yang Digunakan

Prinsip syariah menurut fatwa MUI tersebut dijelaskan dalam UU No. 21 tahun 2008.

Prinsip tersebut diantaranya, prinsip keadilan dan keseimbangan (Al Adl wa tawazun), universalisme (alamiyah), kemaslahatan (maslahah), juga tidak mengandung objek haram. Objek haram diantaranya, gharar, riba, masyir, dan halim.

Menurut Martono (2002) terdapat dua prinsip Bank Konvensional diantaranya, penetapan bunga sebagai harga dan sistem biaya fee based.

Penetapan bunga sebagai harga dilakukan untuk semua produk seperti, tabungan, kredit, dan deposito. Sistem biaya fee based berarti bahwa bank menentukan berbagai biaya dalam nominal atau prosentase terntentu.

3. Berdasarkan Investasinya

Perbedaan Bank Syariah Dan Bank Konvensional juga terdapat pada segi investasinya. Menurut POJK Nomor 31/POJK.05/2014, investasi untuk Bank Syariah hanya untuk perdagangan yang halal (bebas riba dan gharar). Perdagangan tersebut seperti, perdagangan, peternakan, perikanan, dll.

Bank Konvensional melayani investasi dalam berbagai hal usaha baik tujuannya untuk mencari keuntungan atau hanya untuk membeli barang konsumsi.

Aturan Investasi Bank Konvensional tersebut terdapat pada POJK Nomor 42/POJK.03/2017. Semua investasi walaupun tidak halal asalkan diakui oleh hukum positif pemerintah dapat dilakukan.

4. Segi Pembagian Keuntungan

Berdasarkan POJK Nomor 31/POJK.05/2014 Pasal 22 menyebutkan bahwa pembagian keuntungan Bank Syariah adalah dari sistem bagi hasil. Bagi hasil investasi harus ditentukan saat perjanjian awal.

Nisbah atau ukuran bagi hasil didasarkan pada keuntungan yang diperoleh. Kerugian pun harus dibagi dan tidak ada pengecualian antar keduabelah pihak.

Berdasarkan penjelasan dari Syafi’i Antonio (2001:34) dalam bukunya, Bank Kovensional sistem pembagiannya menggunakan sistem bunga.

Penentuan harga Bank Konvensional dinilai dari tingkat suku bunga tertentu yang disebut sebagai based. Bank konvensional tidak memedulikan untung atau ruginya pihak kedua.

5. Segi Tujuan atau Orientasi Lembaga

image: pixabay

Bank Syariah dengan prinsip yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al- Hadist harus memiliki tujuan yang baik. Bank Syariah memiliki orientasi yang menguntungkan kedua belah pihak dan juga rugi yang ditanggung bersama.

Tujuan dari Bank Syariah tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga kemakmuran, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bank Konvensional lebih mengedepankan keuntungan dan tidak ikut menanggung kerugian atas investasi yang diberikannya. Orientasi dari Bank Konvensional adalah profit oriented.

Hal ini berarti orientasinya hanya keuntungan terbukti dalam hal pemberian kredit untuk usaha denda untuk keterlambatan pembayaran tidak ada pemakluman.

6. Hubungan Nasabah dengan Pihak Bank

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang satu ini berkaitan dengan hubungan di antara nasabah dengan bank.

Bank Syariah memperlakukan nasabah seperti ikatan mitra atau pihak yang saling memberikan keuntungan. Perlakuan tersebut juga didukung dengan transparansi perjanjian di antara kedua belah pihak sehingga dipastikan memiliki hubungan yang baik.

Bank Konvensional lebih kepada memberikan keuntungan atau pembayaran cicilan kredit tepat waktu, maka pihak bank akan berperilaku baik.

Perbedaan yang menonjol yaitu pada transparansi perjanjian mengenai keterlambatan pembayarannya. Pihak Bank Konvensional tidak memberikan kelonggaran terhadap keterlambatan tertentu dan akan langsung melakukan penyitaan aset.

7. Dewan Pengawas

Berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2008, Bank Syariah memiliki lembaga pengawasan yang disebut dengan DPS (Dewan Pengawas Syariah). DPS adalah dewan yang menilai apakah pelaksanaan Bank Syariah sesuai dengan prinsip syariah atau tidak.

Pembuatan fatwa untuk produk baru yang masih belum terdapat fatwa dari MUI juga harus dilakukan lembaga ini.

Bank konvensional tidak memiliki lembaga pengawasan setara DPS seperti Bank Syariah. Pengawasan hanya berpusat dari OJK yang juga mengawasi Bank Syariah (tidak khusus untuk Bank Konvensional).

Namun, semua transaksi atau kegiatan ekonomi dari Bank Konvensional harus sesuai dengan hukum-hukum positif yang telah diatur pemerintah yang berwenang.

Baca Juga: Kupas Tuntas lembaga keuangan bukan bank di Indonesia

8. Segi Produk

Produk dari Bank Syariah menurut POJK Nomor 31/POJK.05/2014 terbagi menjadi tiga dan perbedaannya terletak pada akad yang digunakan. Jenis produknya diantaranya, pembiayaan jual beli, investasi, dan jasa.

Pembiayaan jual beli diantaranya murabahah, salam, dan istishna’. Pembiayaan investasi meliputi, mudharabah dan musyarakah (masih terbagi lagi). Pembiayaan jasa diantaranya, ijarah, hawalah, dll.

Menurut Pasal 20  ayat 1 PBI Nomor 5/8/PBI/2003 (Penerapan Manajemen Resiko bagi Bank Umum) menjelaskan produk-produk Bank Konvensional. Bank Konvensional memberikan pembeda pada produknya langsung dari kegunaan dari produknya.

Produk-produk dari bank konvensional diantaranya, tabungan, deposito (deposito berjangka, sertifikat deposito, dan deposit on call), giro, dan berbagai jenis kredit.

Itulah penjelasan tentang perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional yang dapat dijadikan acuan pertimbangan pemilihan bank.

Kedua bank tersebut memiliki perbedaan dan juga sekaligus menggambarkan kelemahan dan kelebihannya seperti, pada segi hubungan nasabah dengan pihak bank. Perbedaan tersebut menjelaskan kelebihan Bank Syariah yang memperlakukan nasabah sebagai mitranya dan sebaliknya.

Pemahaman menyeluruh terhadap segala perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional dapat memberikan masukan/ referensi agar dapat mudah menentukan akan menjadi nasabah dari bank yang mana.

Terlepas dari semua perbedaan tersebut, alangkah baiknya juga disesuaikan dengan kebutuhan nasabah itu sendiri. Lebih baik juga langsung berkonsultasi dengan Customer Service dari kedua bank tersebut.

Hal tersebut bertujuan agar dapat lebih rinci lagi kelebihan dan kekurangan dari kedua bank tersebut.

Lebih baik sedikit rumit di awal daripada rumit di akhir bukan?

Kemampuan pembayaran dari pembiayaan juga harus dipertimbangkan agar tidak menjadi kendala yang berarti di kemudian hari (jika berkaitan dengan pinjaman).

Header image: Pixabay

Mendirikan situs income.id sebagai perwujudan pengabdian kepada bangsa dan negara indonesia melalui media yang informatif dan edukatif

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bisnis

Cara Menghitung HPP Produk Beserta Panjelasannya

Cara Menghitung HPP Produk

Sebuah perusahaan yang memproduksi suatu barang perlu tahu dengan pasti cara menghitung HPP produk agar tidak terjadi kesalahan hitung. Terdapat beberapa biaya pengeluaran atas produk yang harus jelas rinciannya. Hal ini dilakukan supaya perusahaan mengetahui harga pokok yang dibuatnya. Tertarik dengan penjelasan terkait? Simak berikut ulasannya:

Tentang HPP Produk

Bagi sebuah perusahaan cara menghitung hpp produk harus diketahui dengan pasti setiap langkah-langkahnya. Mengapa demikian? HPP merupakan total biaya yang telah dikeluarkan pihak perusahaan dalam menghasilkan barang produksi. Biaya yang terdapat di dalamnya meliputi harga langsung dan tak langsung.

Memungkinkan perusahaan dapat dengan tepat menentukan harga produk sebelum dilakukan penjualan. Selain itu, tujuan dari setiap perusahaan menentukan harga yang dibuat yakni agar sasaran produk pun sesuai dengan target. Untuk lebih lanjutnya, berikut akan dijelaskan tujuan lain dari HPP yaitu:

  • Setiap produk yang dijual dapat memenuhi target produksi yang telah ditentukan.
  • Dapat menstabilkan harga produk yang akan dijual di pasaran.
  • Bisa mempertahankan harga produk berdasarkan proses produksi yang jelas.
  • Upaya dalam memaksimalkan keuntungan.

Mengetahui Metode Pendekatan Laporan HPP

Produk Ketika sebuah perusahaan membuat laporan untung dan rugi dari biaya pokok produksi yang dikeluarkan, ada dua metode yang bisa digunakan. Untuk pendekatan pertama yang bisa digunakan adalah Full Costing dan yang kedua Variable Costing. Ingin tahu bagaimana penjelasannya? Simak berikut ulasannya.

  • Full Costing, adalah perhitungan HPP yang dilakukan untuk mengetahui harga pokok dan biaya produksi. Pendekatan ini berkaitan dengan segala perhitungan unsur biaya produksi yang masuk ke dalam HPP. Di dalam perhitungan ini terdapat biaya tenaga kerja, bahan baku hingga overhead, keseluruhannya dihitung menjadi satu kesatuan.
  • Variable Costing, yakni sebuah perhitungan HPP yang di dalamnya hanya menjumlahkan biaya yang sifatnya variabel dalam harga produksi. Menjadikan variable costing hanya untuk menghitung HPP dengan rincian biaya yang terpisah dalam setiap periode tertentu. Rincian yang terdapat di dalamnya yaitu ada biaya bahan baku, tenaga kerja hingga overhead.

Begitulah cara menghitung HPP produk yang memakai pendekatan Full dan variable Costing. Kedua pendekatan tersebut bisa digunakan oleh pelaku dalam perusahaan untuk menentukan setiap harga pokok dalam produksi. Membuat perusahaan bisa menetapkan harga jual yang akan dipasarkan.

Cara Menghitung HPP Produk

Bagi yang belum mengetahui cara menghitung HPP produk dengan benar, terdapat beberapa tahapan yang perlu diketahui. Perhitungannya pun tidak terlalu sulit untuk dilakukan, jika pengguna adalah seorang yang masih awam. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam perhitungan tersebut yaitu:

1. Melakukan Perhitungan Bahan Baku

Hal pertama yang perlu dilakukan yaitu dengan menjumlahkan keseluruhan saldo yang terdapat di awal serta pembelian bahan baku. Selanjutnya jika sudah mendapatkan hasilnya kurangi dengan saldo di akhir periode. Jadi di tahap pertama ini adalah melakukan perhitungan bahan baku.

2. Menghitung Biaya Produksi

Tahap selanjutnya untuk dapat mengetahui HPP produk yaitu menghitung biaya produksi. Caranya yakni dengan menjumlahkan tiga komponen HPP di awal yaitu harga bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Perhitungan dalam tahap ini pun sangat penting, sebab agar pelaku usaha mengetahui dengan pasti total dari hasil produksinya.

3. Menetapkan Biaya Pokok Produksi

Langkah selanjutnya, pelaku usaha bisa menetapkan biaya pokok produksi dengan mentotalkan keseluruhan biaya. Biaya yang dimaksudkan yaitu penjumlahan produksi serta saldo awal persediaan barang. Setelahnya dapat dikurangi dengan jumlah saldo akhir dari persediaan barang. Pada tahap inilah nantinya pelaku usaha juga bisa menentukan harga jual dari barang yang akan diproduksi.

4. Menghitung HPP

Terakhir, perhitungan HPP dapat dilakukan dengan mentotalkan jumlah harga pokok dengan ketersediaan barang produksi. Persediaan barang yang dimaksud adalah barang awal yang akan dikurangi dengan persediaan akhir. Membuat perhitungan HPP bisa terlihat berapa jumlahnya.

Itulah langkah-langkah yang mesti diketahui untuk dapat melakukan perhitungan HPP dengan benar. Setiap tahapan dari perhitungan tersebut bisa dilakukan oleh setiap pelaku usaha dengan mudah bukan? Hal yang perlu diingat dalam perhitungan tersebut yaitu setiap biaya atau harga harus jelas dan pasti nominalnya.

Contoh Perhitungan HPP

Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana tahapan dan langkah-langkah dalam melakukan perhitungan HPP. Supaya lebih paham, akan diberikan contoh perhitungan yang sesuai dengan keadaan dilapangan. Contoh berupa soal cerita yang bisa pengguna pahami sesuai dengan kasus yang terdapat di sebuah perusahaan.

Contohnya yaitu, dalam sebuah perusahaan terdapat jumlah di luar biaya produksi sebesar Rp 100.000, sedangkan jumlah dari barang yang telah diproduksi adalah 2 unit. Berapakah kira-kira harga pokok yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan per satuannya? = Biaya produksi : Jumlah unit = Rp 100.000 : 2 = Rp 50. 000 per satuan

Itulah penjelasan cara menghitung HPP produk beserta dengan contohnya yang dapat pengguna pahami sebelumnya. Dalam contoh kasus yang diberikan, itu adalah contoh dari sekian banyak hitungan sederhana. Supaya dapat memahami dan menerapkannya, pelajari dan praktekkan dengan menghitungnya secara manual.

Continue Reading

Bisnis

Intip Rincian Modal Usaha Laundry dengan Keuntungan Menjanjikan

rincian modal usaha laundry

Di tengah masa pandemi seperti ini, beralih ke dunia bisnis menjadi hal terbaik yang dapat dilakukan, yaitu dengan menjalankan bisnis laundry. Bisa dibilang bisnis satu ini begitu menjanjikan, apalagi mengingat banyaknya orang yang membutuhkan jasa pencuci pakaian karena kesibukan bekerja. Bahkan rincian modal usaha laundry ini pun tidak begitu besar loh.

Usaha laundry memberlakukan harga dengan ukuran per kilo, yaitu sekitar Rp 6rb hingga Rp 7rb saja. Sehingga bisa dipastikan jasa laundry akan ramai karena harganya yang murah. Namun meskipun begitu, profit yang didapatkan pun terbilang menjanjikan mengingat modal usaha yang tidak besar.

Lantas bagaimana sebenarnya prospek bisnis dan rincian modal yang perlu dikeluarkan untuk usaha laundry satu ini? Berikut ulasan lengkapnya, yaitu antara lain:

Prospek Bisnis Laundry

Membuka usaha laundry merupakan hal yang cukup menantang namun sangat menjanjikan. Hal ini dikarenakan prospek maupun peluang usahanya yang dapat memutar uang dengan sangat cepat. Pasalnya, jasa pencuci baju ini begitu dibutuhkan oleh semua orang setiap harinya. Sehingga tidak heran apabila usaha ini cukup booming di kalangan masyarakat dan begitu dicari, baik oleh ibu rumah tangga hingga pelajar maupun mahasiswa.

Maka dari itulah, peluang bisnis laundry yang sedang booming ini harus dimanfaatkan dengan baik. Apalagi ditambah dengan pengoperasiannya yang sangat mudah, maka semua orang pun berpotensi menghasilkan keuntungan lumayan besar melalui bisnis satu ini. Apabila mempromosikannya dengan baik, dijamin usaha laundry semakin dikenal dan mendatangkan banyak konsumen untuk penghasilan menjanjikan.

Berapa Rincian Modal Usaha Laundry?

Namun sebelum memulai bisnis laundry, ada baiknya bagi para pebisnis mengetahui rincian modal usaha untuk jasa laundry dan menyesuaikannya pada anggaran. Berikut inilah perhitungan yang bisa dijadikan patokan, yaitu antara lain:

1. Modal Peralatan Utama

Rincian modal usaha laundry terbesar yaitu terletak pada peralatan utama yang digunakan untuk mencuci. Misalnya seperti 1 mesin cuci dengan kisaran harga Rp 4.000.000, 1 setrika seharga Rp 300.000, 1 unit timbangan Rp 250.000, 1 impulse sealer Rp 200.000, dan juga 1 set rak dan meja laundry seharga Rp 3.500.000. Total modal untuk peralatan saja yaitu sebesar Rp 8.250.000.

Selain peralatan, tentunya setiap pebisnis untuk usaha laundry membutuhkan lokasi yang tepat. Hal ini nantinya akan berbeda di setiap daerah dan menyesuaikan. Sehingga modal untuk menyewa tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Namun pebisnis bisa menyesuaikannya berdasarkan anggaran dan menegosiasikan harga bersama dengan pemilik agar mendapat harga lebih murah.

2. Modal Kerja

Selain modal peralatan dan lokasi, terdapat pula modal kerja yang harus diperhitungkan. Dalam hal ini, rincian modal usaha laundry yaitu berupa detergen pakaian Rp 200.000, pewangi pakaian Rp 250.000, plastik wrap Rp 200.000, spanduk dan brosur promosi Rp 200.000, dan neon box Rp 300.000. Total modal kerja yaitu sebesar Rp 1.150.000.

Tentunya kisaran tersebut belum termasuk biaya sewa tempat dan juga listrik per bulan. Pebisnis bisa memulai bisnis laundry kiloan dengan menyesuaikan anggaran dan menekannya hingga sekecil mungkin. Misalnya saja dengan tidak menyewa tempat atau menggunakan tempat milik sendiri, serta menggunakan mesin cuci bekas yang masih layak pakai. Hal ini akan menghemat modal namun tetap menghasilkan keuntungan besar.

Kiat Sukses Usaha Laundry

Setelah mengetahui informasi mengenai rincian modal usaha laundry, tentu saja langkah berikutnya adalah perlu mengerti bagaimana tips sukses memulai bisnisnya. Jika dirasa sudah siap dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, maka simak kiat suksesnya berikut ini:

  • Mengamati persaingan

Tips pertama yang harus diperhatikan adalah mengenai persaingan di sekitar lokasi usaha laundry. Tentunya dengan mengetahui hal ini, maka pebisnis bisa melakukan survey kisaran harga yang akan dikenakan apakah terlalu rendah atau tinggi. Apabila dirasa tarif yang ditawarkan oleh kompetitor terlalu rendah, maka lebih baik mencari lokasi lain.

  • Memberikan pelayanan yang bagus

Tidak hanya mengamati persaingan saja, namun pastikan selalu memberikan pelayanan yang bagus pada konsumen. Sehingga mereka akan kembali menggunakan jasa laundry yang ditawarkan. Tentunya hal ini perlu dibarengi dengan kualitas yang selalu terjaga baik.

  • Melakukan promosi

Tak lupa pula untuk selalu menggiatkan promosi, baik melalui sosial media, pemberian diskon atau cashback, hingga strategi mulut ke mulut yang dapat melancarkan bisnis. Dengan begitu, jasa laundry jadi lebih dikenal dan mendatangkan banyak pelanggan.

Nah itulah ulasan mengenai prospek bisnis, rincian modal usaha laundry, dan juga kiat sukses menjalankannya. Apabila memiliki niat untuk menjalankan usaha ini, maka sebisa mungkin mengetahui apa saja yang dibutuhkan demi keberlangsungan bisnis. Sehingga nantinya bisa memutar modal yang sedikit menjadi profit menguntungkan dan menjanjikan. Jadi, apakah tertarik mencoba bisnis satu ini?

Continue Reading

Bisnis

Usaha Perlengkapan Masjid yang Memberikan Keuntungan Menjanjikan

usaha perlengkapan masjid

Masjid adalah tempat ibadah yang dipakai oleh umat muslim untuk beribadah. Pada masjid, ada banyak peralatan pendukung yang pasti difungsikan. Misalnya saja karpet masjid, jam digital masjid, dan berbagai peralatan lainnya. Maka dari itu, tidak heran jika usaha perlengkapan masjid bisa memberikan keuntungan yang menjanjikan.

Hal ini dikarenakan perlengkapan masjid pasti banyak dicari. Mengingat jumlah masjid di Indonesia ada banyak. Lalu, apa saja barang-barang yang bisa dijual jika membuka usaha penjualan perlengkapan masjid? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka harus disimak runtutan daftar yang ada di bawah ini secara terperinci:

1. Kubah Masjid

Peralatan pertama yang bisa dijual adalah kubah masjid. Jika memilih untuk menjual kubah masjid, maka harus memiliki vendor atau pembuat kubah yang berkualitas. Saat ini, bentuk kubah bermacam-macam. Maka dari itu, untuk menyiasati permintaan pembeli harus bisa berinovasi mengikuti perkembangan bentuk yang ada.

Semakin banyak jenis yang dijual, maka pembeli juga akan terfasilitasi dengan layanannya. Pastikan kubah yang dijual memiliki jenis kualitas yang baik. Hal ini dikarenakan kubah terletak di bagian luar dan fungsinya untuk menutup bagian atas masjid. Maka dari itu, pastikan untuk memakai kualitas terbaik untuk pelanggan.

2. Karpet Masjid

Peralatan kedua yang paling umum dijual adalah karpet masjid. Peralatan ini pastinya dibutuhkan oleh banyak masjid. Dengan adanya karpet masjid ini, jemaah masjid tidak perlu bingung mencari alas lain. Perlengkapan masjid satu ini memang penting untuk diperhatikan. Maka dari itu, jika menjualnya haruslah memakai produk berkualitas.

Saat ini, kebutuhan konsumen bermacam-macam. Mulai dari motif dan corak yang variatif, hingga ukuran yang beragam. Dengan adanya keberagaman ini, sebagai orang yang menjual juga harus paham tentang kualitasnya. Pengguna pastinya mencari karpet berkualitas untuk dipakai di masjid-masjid.

3. Jam Digital Masjid

Usaha perlengkapan masjid biasanya juga menyediakan jam digital untuk masjid. Jam ini terlihat lebih bagus dibanding jam biasa. Hal ini dikarenakan jam digital bisa terlihat meski dari arah yang jauh. Harga jam ini juga lebih mahal dari jam dinding biasa. karena peminatnya banyak, maka tidak heran jika jam ini bisa mendatangkan keuntungan yang besar.

Jika ingin menjual ini, maka harus menyediakan berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya, bentuk yang biasa dipakai adalah persegi panjang. Lalu untuk ukurannya sendiri bermacam-macam. Pembeli pastinya membutuhkan ukuran yang beragam. Maka dari itu, pastikan untuk menyediakannya agar bisa dipilih oleh pembeli.

4. Speaker

Peralatan keempat yang umumnya dipakai di masjid adalah speaker. Alat ini pastinya ada di setiap masjid. Jika ingin membuka usaha peralatan masjid, maka bisa menambahkan alat ini sebagai salah satu peralatan yang dijual. Jenis dan ukuran speaker pun bermacam-macam dan tidak berpatok pada satu ukuran saja.

Karena tujuan pemakaian speaker sangat penting, maka dari itu sangat pas jika menyediakan alat ini untuk dijual. Karena nantinya alat ini akan mendatangkan keuntungan besar jika ada yang membelinya. Untuk itu, pastikan untuk menyediakan berbagai merek dan ukuran agar pembeli bisa melakukan pemilihan.

5. Mimbar Masjid

Menjual mimbar masjid juga tidak ada salahnya. Karena mimbar masjid adakah alat yang pastinya dibutuhkan. Mimbar ini juga sudah memiliki bentuk yang bervariasi. Maka dari itu, jika menyediakan mimbar masjid maka akan sangat pas. Pembeli bisa melakukan pembelian dalam satu waktu jika perlengkapan yang dijual lengkap.

Jika ingin membuka usaha perlengkapan masjid, semua peralatan di atas bisa langsung dijual. Setiap alat pasti dibutuhkan oleh masjid, maka dari itu akan sangat pas jika disediakan di satu tempat yang sama. Usaha semacam ini memiliki banyak referensi, jika memang tertarik untuk memulainya cari refrensi sebanyak-banyaknya untuk sukses. Sumber: Bisniz.id

Continue Reading

TOP STORIES