Connect with us

Bisnis

Kupas Tuntas Tentang Manajemen Rantai Pasokan

Manajemen rantai pasokan atau kadang disebut juga Supply Chain Manajemen (SCM) adalah rangkaian proses pengelolaan sekaligus pengawasan rantai siklus. SCM sudah biasa dikenal dalam industri manufaktur.

Karena proses ini melibatkan alur proses bahan mentah hingga menjadi bahan jadi dan sampai pada konsumen. Berikut serba-serbi tentang SCM

Pengertian Manajemen Rantai Pasokan (SCM) Menurut Para Ahli

Terdapat beberapa ahli di bidang manajemen yang mendefinisikan tentang SCM ini. Masing-masing mengemukakan pendapat yang berbeda namun punya makna yang hampir sama. Berikut uraian selengkapnya

Chase, Aquilano, dan Jacobs

Ketiga pakar manajemen tersebut berpendapat sama tentang SCM. Menurut mereka penerapan pendekatan secara total membutuhkan sebuah alur sistem (SCM).

Hal ini dilakukan untuk pengelolaan seluruh aliran informasi, sekaligus jasa dari bahan baku yang dimiliki pabrik atau gudang. Hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen.

James A. dan Mona J. Fitzsimmons

Keduanya berpendapat jika SCM yaitu sebuah sistem pendekatan total. Di mana sistem tersebut bertujuan untuk mengantarkan produk pada konsumen akhir.

Dalam prosesnya, kegiatan tersebut turut digunakan teknologi informasi untuk mengkoordinasikan elemen-elemen suplay chain. Mulai dari tingkat pemasok hingga sampai pada pengecer.

Russel Dan Taylor

Russel dan Taylor, pun tidak ketinggalan mengungkapkan pendapatnya tentang SCM. Mereka menyebutkan jika SCM merupakan sebuah alur proses pengelolaan arus informasi produk dan layanan. Semua proses tersebut berlaku untuk seluruh jaringan. Jaringan tersebut mulai dari customer, perusahaan, hingga sampai pada pemasok.

Komponen Manajemen Rantai Pasokan

Setelah tahu tentang apa itu SCM menurut para ahli, selanjutnya bisa dibahas mengenai komponennya. Setidaknya ada 3 komponen SCM yang bisa diketahui. Simak penjelasan masing-masing komponennya di bawah ini

Upstream Supply Chain

Salah satu komponen SCM yang pertama ini berfokus untuk mengurus hubungan antara perusahaan dengan vendor atau bisa dikatakan pihak lain. Hubungan ini berkaitan dengan hal transfer barang.

Intinya barang yang diproduksi tidak bisa langsung sampai ke tangan konsumen. Namun harus melalui perantara atau penyalur lainnya.

Misalnya produk elektonik yang diproduksi oleh sebuah perusahaan. Tidak mungkin barang ini dapat langsung sampai ke tangan konsumen. Namun, barang ini akan dikirimkan dahulu oleh produsen pada supplier-suplier terpilih.

Downstream Supply Chain

Lain dengan komponen sebelumnya, downstream supply chain ini malah kebalikannya. Pihak manajemen barang akan langsung mengurusi transfer barang untuk sampai ke tangan konsumen. Tanpa melalui atau campur tangan pihak supplier dahulu.

Untuk lebih jelasnya, contoh komponen SCM seperti ini misalnya pabrik mebel. Pihaknya akan membuat produk sesuai pesanan konsumen. Jadi barang dapat langsung sampai ke tangan konsumen atau dalam hal ini pemesan.

Internal Supply Chain

Berbeda dengan 2 komponen sebelumnya, Internal Supply Chain ini lebih berfokus pada aktifitas pemasukan barang. Aktifitas yang dimaksud adalah mulai dari manajemen produksi, kegiatan pabrikasi, maupun controlling ketersediaan bahan baku.

Proses Manajemen Rantai Pasokan (SCM)

Dalam SCM juga terdapat proses yang saling berhubungan. Ada sekitar 6 point proses yang masing-masing berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam SCM. Berikut penjelasan untuk tiap-tiap pointnya:

1. Pelanggan

Pelanggan bisa dikatakan merupakan mata rantai pertama dari proses SCM. Apalagi untuk perusahaan yang berbasis OEM / Original Equipment Manufacturer, dimana pelangganlah yang menentukan order. Jadi pelanggan akan memesan produk yang diinginkan dengan terlebih dahulu menghubungi bagian penjualan.

Pada umumnya, pelanggan tersebut akan menyebutkan hal-hal terperinci seputar produk yang akan dipesan oleh mereka. Misalnya kapan produk akan dikirimkan, atau berapa jumlah produk yang ingin dipesan.

2. Perencanaan

Selanjutnya, tugas akan diambil alih oleh bagian perencanaan. Jadi bagian perencanaan akan mulai mempersiapkan proses produksi barang yang diinginkan oleh pelanggan. Mereka akan menghitung perkiraan bahan mentah yang akan dibeli. Termasuk juga bahan-bahan pendukungnya.

3. Pembelian

Selesai bagian perencanaan, proses selanjutnya diteruskan oleh bagian pembelian. Dari data yang diperoleh bagian perencanaan, terkait berapa jumlah bahan mentah maupun bahan pendukungnya bagian pembelian akan mulai merealisasikannya.

Tugas mereka yaitu melakukan pemesanan bahan-bahan tersebut. Tidak lupa juga mereka akan menentukan berapa tanggal penerimaan bahannya.

4. Persediaan

Sampai pada akhirnya bahan sudah sampai ke pabrik proses diteruskan oleh bagian persediaan. Setelah diterima semua secara lengkap di pabrik, bagian persediaan akan melakukan pengecekan kualitas serta ketepatan jumlah bahan apakah sudah sesuai dengan yang dipesan. Lantas, bahan tersebut tidak langsung digunakan untuk produksi, melainkan disimpan dulu di gudang.

5. Produksi

Jika sudah waktunya, barang dibuat maka proses akan dilanjutkan oleh bagian produksi. Mereka akan menggunakan bahan mentah serta bahan pendukung yang sudah dibeli tadi, untuk menghasilkan barang jadi. Barang jadi ini tentu saja sesuai dengan pesanan pelanggan sebelumnya.

Saat barang jadi sudah siap, jika belum waktunya dikirimkan ke pelanggan maka bisa disimpan dahulu di gudang. Hingga waktu pengiriman tiba, baru barang jadi tersebut diproses untuk sampai ke tangan konsumen.

6. Transportasi

Proses terakhir akan diselesaikan oleh pihak departemen pengiriman (Shipping Departemen). Bagian ini akan mengatur kapan waktu keberangkatan barang jadi yang sebelumnya sudah disimpan dalam gudang.

Yang paling penting adalah waktu pengiriman ini harus disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Tidak kurang atau lebih karena mempengaruhi kepuasan konsumen.

Baca Juga: Manajemen Sumber Daya Manusia dan Praktiknya di Perusahaan

Permasalahan Pada Penerapan Manajemen Rantai Pasokan

Dalam implementasinya, bukan berarti SCM ini tidak ada kendala. Justru ada beberapa hal yang perlu tindakan pengendalian khusus. Misalnya saja harus mengetahui dengan benar wilayah jaringan distribusi.

Mulai dari jumlah, dimana lokasi supplier berada, fasilitas produksi apa saja yang ada, pusat wilayah distribusi, letak gudang hingga pelanggan sendiri.

Supaya proses distribusi dapat berjalan dengan cepat, SCM butuh sistem informasi yang mudah untuk saling diintegrasikan. Hal ini karena mereka harus membagi informasi dengan cepat seputar harga, inventaris, serta transportasi yang menjadi akomodasi.

Selain itu juga mengurus syarat pembayaran produk hingga metodologi apa yang digunakan.

Bidang SCM ini sangat sibuk, karena tugasnya yang cukup kompleks serta dibutuhkan kecepatan waktu. Mereka harus mengatur arus informasi dapat tersebar dengan cepat dengan integrasi yang tepat. Hal ini dilakukan agar stok barang tidak sampai kekurangan atau malah kelebihan.

Itulah sekilas serba-serbi tentang manajemen rantai pasokan/SCM. Mulai dari pengertian dari para ahli, komponen, proses, hingga permasalahan yang terjadi saat pengimplementasiannya. SCM ini dapat diterapkan di bisnis yang sedang dikembangkan. Sistem distribusi yang rapi dengan penerapan SCM ini akan membuat bisnis lebih bisa berjalan dengan baik tentunya.

Header image: Pixabay

Mendirikan situs income.id sebagai perwujudan pengabdian kepada bangsa dan negara indonesia melalui media yang informatif dan edukatif

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bisnis

Cara Menghitung HPP Produk Beserta Panjelasannya

Cara Menghitung HPP Produk

Sebuah perusahaan yang memproduksi suatu barang perlu tahu dengan pasti cara menghitung HPP produk agar tidak terjadi kesalahan hitung. Terdapat beberapa biaya pengeluaran atas produk yang harus jelas rinciannya. Hal ini dilakukan supaya perusahaan mengetahui harga pokok yang dibuatnya. Tertarik dengan penjelasan terkait? Simak berikut ulasannya:

Tentang HPP Produk

Bagi sebuah perusahaan cara menghitung hpp produk harus diketahui dengan pasti setiap langkah-langkahnya. Mengapa demikian? HPP merupakan total biaya yang telah dikeluarkan pihak perusahaan dalam menghasilkan barang produksi. Biaya yang terdapat di dalamnya meliputi harga langsung dan tak langsung.

Memungkinkan perusahaan dapat dengan tepat menentukan harga produk sebelum dilakukan penjualan. Selain itu, tujuan dari setiap perusahaan menentukan harga yang dibuat yakni agar sasaran produk pun sesuai dengan target. Untuk lebih lanjutnya, berikut akan dijelaskan tujuan lain dari HPP yaitu:

  • Setiap produk yang dijual dapat memenuhi target produksi yang telah ditentukan.
  • Dapat menstabilkan harga produk yang akan dijual di pasaran.
  • Bisa mempertahankan harga produk berdasarkan proses produksi yang jelas.
  • Upaya dalam memaksimalkan keuntungan.

Mengetahui Metode Pendekatan Laporan HPP

Produk Ketika sebuah perusahaan membuat laporan untung dan rugi dari biaya pokok produksi yang dikeluarkan, ada dua metode yang bisa digunakan. Untuk pendekatan pertama yang bisa digunakan adalah Full Costing dan yang kedua Variable Costing. Ingin tahu bagaimana penjelasannya? Simak berikut ulasannya.

  • Full Costing, adalah perhitungan HPP yang dilakukan untuk mengetahui harga pokok dan biaya produksi. Pendekatan ini berkaitan dengan segala perhitungan unsur biaya produksi yang masuk ke dalam HPP. Di dalam perhitungan ini terdapat biaya tenaga kerja, bahan baku hingga overhead, keseluruhannya dihitung menjadi satu kesatuan.
  • Variable Costing, yakni sebuah perhitungan HPP yang di dalamnya hanya menjumlahkan biaya yang sifatnya variabel dalam harga produksi. Menjadikan variable costing hanya untuk menghitung HPP dengan rincian biaya yang terpisah dalam setiap periode tertentu. Rincian yang terdapat di dalamnya yaitu ada biaya bahan baku, tenaga kerja hingga overhead.

Begitulah cara menghitung HPP produk yang memakai pendekatan Full dan variable Costing. Kedua pendekatan tersebut bisa digunakan oleh pelaku dalam perusahaan untuk menentukan setiap harga pokok dalam produksi. Membuat perusahaan bisa menetapkan harga jual yang akan dipasarkan.

Cara Menghitung HPP Produk

Bagi yang belum mengetahui cara menghitung HPP produk dengan benar, terdapat beberapa tahapan yang perlu diketahui. Perhitungannya pun tidak terlalu sulit untuk dilakukan, jika pengguna adalah seorang yang masih awam. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam perhitungan tersebut yaitu:

1. Melakukan Perhitungan Bahan Baku

Hal pertama yang perlu dilakukan yaitu dengan menjumlahkan keseluruhan saldo yang terdapat di awal serta pembelian bahan baku. Selanjutnya jika sudah mendapatkan hasilnya kurangi dengan saldo di akhir periode. Jadi di tahap pertama ini adalah melakukan perhitungan bahan baku.

2. Menghitung Biaya Produksi

Tahap selanjutnya untuk dapat mengetahui HPP produk yaitu menghitung biaya produksi. Caranya yakni dengan menjumlahkan tiga komponen HPP di awal yaitu harga bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Perhitungan dalam tahap ini pun sangat penting, sebab agar pelaku usaha mengetahui dengan pasti total dari hasil produksinya.

3. Menetapkan Biaya Pokok Produksi

Langkah selanjutnya, pelaku usaha bisa menetapkan biaya pokok produksi dengan mentotalkan keseluruhan biaya. Biaya yang dimaksudkan yaitu penjumlahan produksi serta saldo awal persediaan barang. Setelahnya dapat dikurangi dengan jumlah saldo akhir dari persediaan barang. Pada tahap inilah nantinya pelaku usaha juga bisa menentukan harga jual dari barang yang akan diproduksi.

4. Menghitung HPP

Terakhir, perhitungan HPP dapat dilakukan dengan mentotalkan jumlah harga pokok dengan ketersediaan barang produksi. Persediaan barang yang dimaksud adalah barang awal yang akan dikurangi dengan persediaan akhir. Membuat perhitungan HPP bisa terlihat berapa jumlahnya.

Itulah langkah-langkah yang mesti diketahui untuk dapat melakukan perhitungan HPP dengan benar. Setiap tahapan dari perhitungan tersebut bisa dilakukan oleh setiap pelaku usaha dengan mudah bukan? Hal yang perlu diingat dalam perhitungan tersebut yaitu setiap biaya atau harga harus jelas dan pasti nominalnya.

Contoh Perhitungan HPP

Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana tahapan dan langkah-langkah dalam melakukan perhitungan HPP. Supaya lebih paham, akan diberikan contoh perhitungan yang sesuai dengan keadaan dilapangan. Contoh berupa soal cerita yang bisa pengguna pahami sesuai dengan kasus yang terdapat di sebuah perusahaan.

Contohnya yaitu, dalam sebuah perusahaan terdapat jumlah di luar biaya produksi sebesar Rp 100.000, sedangkan jumlah dari barang yang telah diproduksi adalah 2 unit. Berapakah kira-kira harga pokok yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan per satuannya? = Biaya produksi : Jumlah unit = Rp 100.000 : 2 = Rp 50. 000 per satuan

Itulah penjelasan cara menghitung HPP produk beserta dengan contohnya yang dapat pengguna pahami sebelumnya. Dalam contoh kasus yang diberikan, itu adalah contoh dari sekian banyak hitungan sederhana. Supaya dapat memahami dan menerapkannya, pelajari dan praktekkan dengan menghitungnya secara manual.

Continue Reading

Bisnis

Intip Rincian Modal Usaha Laundry dengan Keuntungan Menjanjikan

rincian modal usaha laundry

Di tengah masa pandemi seperti ini, beralih ke dunia bisnis menjadi hal terbaik yang dapat dilakukan, yaitu dengan menjalankan bisnis laundry. Bisa dibilang bisnis satu ini begitu menjanjikan, apalagi mengingat banyaknya orang yang membutuhkan jasa pencuci pakaian karena kesibukan bekerja. Bahkan rincian modal usaha laundry ini pun tidak begitu besar loh.

Usaha laundry memberlakukan harga dengan ukuran per kilo, yaitu sekitar Rp 6rb hingga Rp 7rb saja. Sehingga bisa dipastikan jasa laundry akan ramai karena harganya yang murah. Namun meskipun begitu, profit yang didapatkan pun terbilang menjanjikan mengingat modal usaha yang tidak besar.

Lantas bagaimana sebenarnya prospek bisnis dan rincian modal yang perlu dikeluarkan untuk usaha laundry satu ini? Berikut ulasan lengkapnya, yaitu antara lain:

Prospek Bisnis Laundry

Membuka usaha laundry merupakan hal yang cukup menantang namun sangat menjanjikan. Hal ini dikarenakan prospek maupun peluang usahanya yang dapat memutar uang dengan sangat cepat. Pasalnya, jasa pencuci baju ini begitu dibutuhkan oleh semua orang setiap harinya. Sehingga tidak heran apabila usaha ini cukup booming di kalangan masyarakat dan begitu dicari, baik oleh ibu rumah tangga hingga pelajar maupun mahasiswa.

Maka dari itulah, peluang bisnis laundry yang sedang booming ini harus dimanfaatkan dengan baik. Apalagi ditambah dengan pengoperasiannya yang sangat mudah, maka semua orang pun berpotensi menghasilkan keuntungan lumayan besar melalui bisnis satu ini. Apabila mempromosikannya dengan baik, dijamin usaha laundry semakin dikenal dan mendatangkan banyak konsumen untuk penghasilan menjanjikan.

Berapa Rincian Modal Usaha Laundry?

Namun sebelum memulai bisnis laundry, ada baiknya bagi para pebisnis mengetahui rincian modal usaha untuk jasa laundry dan menyesuaikannya pada anggaran. Berikut inilah perhitungan yang bisa dijadikan patokan, yaitu antara lain:

1. Modal Peralatan Utama

Rincian modal usaha laundry terbesar yaitu terletak pada peralatan utama yang digunakan untuk mencuci. Misalnya seperti 1 mesin cuci dengan kisaran harga Rp 4.000.000, 1 setrika seharga Rp 300.000, 1 unit timbangan Rp 250.000, 1 impulse sealer Rp 200.000, dan juga 1 set rak dan meja laundry seharga Rp 3.500.000. Total modal untuk peralatan saja yaitu sebesar Rp 8.250.000.

Selain peralatan, tentunya setiap pebisnis untuk usaha laundry membutuhkan lokasi yang tepat. Hal ini nantinya akan berbeda di setiap daerah dan menyesuaikan. Sehingga modal untuk menyewa tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Namun pebisnis bisa menyesuaikannya berdasarkan anggaran dan menegosiasikan harga bersama dengan pemilik agar mendapat harga lebih murah.

2. Modal Kerja

Selain modal peralatan dan lokasi, terdapat pula modal kerja yang harus diperhitungkan. Dalam hal ini, rincian modal usaha laundry yaitu berupa detergen pakaian Rp 200.000, pewangi pakaian Rp 250.000, plastik wrap Rp 200.000, spanduk dan brosur promosi Rp 200.000, dan neon box Rp 300.000. Total modal kerja yaitu sebesar Rp 1.150.000.

Tentunya kisaran tersebut belum termasuk biaya sewa tempat dan juga listrik per bulan. Pebisnis bisa memulai bisnis laundry kiloan dengan menyesuaikan anggaran dan menekannya hingga sekecil mungkin. Misalnya saja dengan tidak menyewa tempat atau menggunakan tempat milik sendiri, serta menggunakan mesin cuci bekas yang masih layak pakai. Hal ini akan menghemat modal namun tetap menghasilkan keuntungan besar.

Kiat Sukses Usaha Laundry

Setelah mengetahui informasi mengenai rincian modal usaha laundry, tentu saja langkah berikutnya adalah perlu mengerti bagaimana tips sukses memulai bisnisnya. Jika dirasa sudah siap dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, maka simak kiat suksesnya berikut ini:

  • Mengamati persaingan

Tips pertama yang harus diperhatikan adalah mengenai persaingan di sekitar lokasi usaha laundry. Tentunya dengan mengetahui hal ini, maka pebisnis bisa melakukan survey kisaran harga yang akan dikenakan apakah terlalu rendah atau tinggi. Apabila dirasa tarif yang ditawarkan oleh kompetitor terlalu rendah, maka lebih baik mencari lokasi lain.

  • Memberikan pelayanan yang bagus

Tidak hanya mengamati persaingan saja, namun pastikan selalu memberikan pelayanan yang bagus pada konsumen. Sehingga mereka akan kembali menggunakan jasa laundry yang ditawarkan. Tentunya hal ini perlu dibarengi dengan kualitas yang selalu terjaga baik.

  • Melakukan promosi

Tak lupa pula untuk selalu menggiatkan promosi, baik melalui sosial media, pemberian diskon atau cashback, hingga strategi mulut ke mulut yang dapat melancarkan bisnis. Dengan begitu, jasa laundry jadi lebih dikenal dan mendatangkan banyak pelanggan.

Nah itulah ulasan mengenai prospek bisnis, rincian modal usaha laundry, dan juga kiat sukses menjalankannya. Apabila memiliki niat untuk menjalankan usaha ini, maka sebisa mungkin mengetahui apa saja yang dibutuhkan demi keberlangsungan bisnis. Sehingga nantinya bisa memutar modal yang sedikit menjadi profit menguntungkan dan menjanjikan. Jadi, apakah tertarik mencoba bisnis satu ini?

Continue Reading

Bisnis

Usaha Perlengkapan Masjid yang Memberikan Keuntungan Menjanjikan

usaha perlengkapan masjid

Masjid adalah tempat ibadah yang dipakai oleh umat muslim untuk beribadah. Pada masjid, ada banyak peralatan pendukung yang pasti difungsikan. Misalnya saja karpet masjid, jam digital masjid, dan berbagai peralatan lainnya. Maka dari itu, tidak heran jika usaha perlengkapan masjid bisa memberikan keuntungan yang menjanjikan.

Hal ini dikarenakan perlengkapan masjid pasti banyak dicari. Mengingat jumlah masjid di Indonesia ada banyak. Lalu, apa saja barang-barang yang bisa dijual jika membuka usaha penjualan perlengkapan masjid? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka harus disimak runtutan daftar yang ada di bawah ini secara terperinci:

1. Kubah Masjid

Peralatan pertama yang bisa dijual adalah kubah masjid. Jika memilih untuk menjual kubah masjid, maka harus memiliki vendor atau pembuat kubah yang berkualitas. Saat ini, bentuk kubah bermacam-macam. Maka dari itu, untuk menyiasati permintaan pembeli harus bisa berinovasi mengikuti perkembangan bentuk yang ada.

Semakin banyak jenis yang dijual, maka pembeli juga akan terfasilitasi dengan layanannya. Pastikan kubah yang dijual memiliki jenis kualitas yang baik. Hal ini dikarenakan kubah terletak di bagian luar dan fungsinya untuk menutup bagian atas masjid. Maka dari itu, pastikan untuk memakai kualitas terbaik untuk pelanggan.

2. Karpet Masjid

Peralatan kedua yang paling umum dijual adalah karpet masjid. Peralatan ini pastinya dibutuhkan oleh banyak masjid. Dengan adanya karpet masjid ini, jemaah masjid tidak perlu bingung mencari alas lain. Perlengkapan masjid satu ini memang penting untuk diperhatikan. Maka dari itu, jika menjualnya haruslah memakai produk berkualitas.

Saat ini, kebutuhan konsumen bermacam-macam. Mulai dari motif dan corak yang variatif, hingga ukuran yang beragam. Dengan adanya keberagaman ini, sebagai orang yang menjual juga harus paham tentang kualitasnya. Pengguna pastinya mencari karpet berkualitas untuk dipakai di masjid-masjid.

3. Jam Digital Masjid

Usaha perlengkapan masjid biasanya juga menyediakan jam digital untuk masjid. Jam ini terlihat lebih bagus dibanding jam biasa. Hal ini dikarenakan jam digital bisa terlihat meski dari arah yang jauh. Harga jam ini juga lebih mahal dari jam dinding biasa. karena peminatnya banyak, maka tidak heran jika jam ini bisa mendatangkan keuntungan yang besar.

Jika ingin menjual ini, maka harus menyediakan berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya, bentuk yang biasa dipakai adalah persegi panjang. Lalu untuk ukurannya sendiri bermacam-macam. Pembeli pastinya membutuhkan ukuran yang beragam. Maka dari itu, pastikan untuk menyediakannya agar bisa dipilih oleh pembeli.

4. Speaker

Peralatan keempat yang umumnya dipakai di masjid adalah speaker. Alat ini pastinya ada di setiap masjid. Jika ingin membuka usaha peralatan masjid, maka bisa menambahkan alat ini sebagai salah satu peralatan yang dijual. Jenis dan ukuran speaker pun bermacam-macam dan tidak berpatok pada satu ukuran saja.

Karena tujuan pemakaian speaker sangat penting, maka dari itu sangat pas jika menyediakan alat ini untuk dijual. Karena nantinya alat ini akan mendatangkan keuntungan besar jika ada yang membelinya. Untuk itu, pastikan untuk menyediakan berbagai merek dan ukuran agar pembeli bisa melakukan pemilihan.

5. Mimbar Masjid

Menjual mimbar masjid juga tidak ada salahnya. Karena mimbar masjid adakah alat yang pastinya dibutuhkan. Mimbar ini juga sudah memiliki bentuk yang bervariasi. Maka dari itu, jika menyediakan mimbar masjid maka akan sangat pas. Pembeli bisa melakukan pembelian dalam satu waktu jika perlengkapan yang dijual lengkap.

Jika ingin membuka usaha perlengkapan masjid, semua peralatan di atas bisa langsung dijual. Setiap alat pasti dibutuhkan oleh masjid, maka dari itu akan sangat pas jika disediakan di satu tempat yang sama. Usaha semacam ini memiliki banyak referensi, jika memang tertarik untuk memulainya cari refrensi sebanyak-banyaknya untuk sukses. Sumber: Bisniz.id

Continue Reading

TOP STORIES